Tadi saya bertemu seseorang. perempuan. ga terlalu cantik sih, kulitnya hitam, jadi cenderung dekil (he he maaf ya).
tubuhnya gemuk dan tinggi. rambutnya panjang berwarna hitam kusam. saya perhatikan sih, matanya tidak mbelok tidak juga sipit. ya biasa saja.
sepertinya cukup deskripsi saya untuk orang ini.
lanjut ke kesan pertama. begitu saya melihatnya, kesan saya adalah "hem, orang ini ceria ya. sering ketawa". seakan akan dia tidak punya masalah apapun.
sampai akhirnya saya berbicara dengan dia mengenai banyak hal. dari dirinya sendiri, sampai.......dirinya sendiri lagi. paham maksud saya? egois. dia tidak memberikan kesempatan untuk orang lain berbicara. ya kebetulan saya cenderung pendengar, bukanlah pembicara. jadi tidak terlalu bermasalah lah.
Mula-mula ia bercerita tentang keluarganya. ia tampak bahagia dengan keadaannya, tapi saya tahu itu palsu. Otaknya bahagia, tapi hatinya tidak. Saya bisa merasakan kesedihan itu. berlanjut ke kehidupan sekolahnya.
Ia bercertita bahwa sekolahnya adalah sekolah terbaik untuknya karena bisa mengajarkan bagaimana cara untuk mengahadapi masalah masalahnya. Saya pikir kali ini ia jujur karena tampak di matanya bahwa ia sedang kelelahan.
Sampai pada saat yang saya tunggu, ia menceritakan dirinya sendiri. Maksud saya, segala kepribadiannya menurut dia sendiri. Ia tak pernah membicarakan tentang keburukannya. Ia membicarakan keburukan orang lain, lalu ia membicarakan apa solusi yang terbaik menurut, ya, sekali lagi menurut, DIA.
Bukannya ingin ikut berpikir apa solusinya, saya justru ingin tertawa terbahak-bahak mendengar serentetan kata-kata yang ia keluarkan. Frase demi frase benar-benar ingin saya tertawakan.
Apakah ia tidak tahu kekurangannya sendiri? Apakah ia benar-benar yang terbaik?
Saya benar-benar muak mendengar semua kalimat yang dilontarkan. Justru kadang kadang, saya jijik sendiri (maaf) terhadap semua teori-teori yang sebenarnya hanya dirangkai dengan kata-kata yang baku sehingga jika terdengar oleh orang lain (yang tidak mengerti) baik-baik saja dan dapat diterima. Padahal sebenarnya? Bodoh.
Orang ini bodoh. Dari segala yang ia ceritakan, ia hanya melihat sesuatu dari satu sisi. Tidak pernah dan tidak mau membuka pikirannya unutk sisi yang lain. Bodoh bukan?
Orang ini egois. Ia tidak mau memikirkan keluarganya dan selalu mendahulukan temannya agar ada yang mau menemaninya. Bodoh dan Egois. Ya, kamu bodoh dan egois".
Buat saya, dia menjijikan. Selalu merasa paling benar dan kuat. Paling pintar dan cerdas.
Teorimu itu sebenarnya cuma sampah, dan aku jelas-jelas muak mendengarnya.
Mau tau dia siapa? Namanya Adinda Hana Satrio.
kaget kan? saya sih engga, haha.
hai Dinda, Belum pernah ada yang ngomong gini sama kamu ya?
Wow, beri saya selamat karena sepertinya saya adalah yang pertama berani berbicara seperti ini.
Jujur saja, kamu banyak salah sama saya. Kamu sering menyakiti saya. Saya sering dianggap penyebab semua masalah hidupmu. Saya yang bodoh karena selalu didahulukan dari pada otak mu. Kamu pikir enak?
Akhirnya kamu sadar bahwa itu salah, eh ternyata langkah yang kamu ambil menyakiti saya lebih lebih lagi. Kamu mengabaikan saya. Mengambil keputusan dalam suatu masalah tanpa menggunakan saya. Betapa bodohnya. Kamu menjadi kejam. Jahat. Licik.
Ini yang kamu inginkan untuk hidupmu?
Sekarang saya sadar, kamu adalah orang yang paling banyak mempunyai sifat buruk di dunia ini. Egois, jahat, kejam, licik. Belum lagi kamu bodoh.
Terima kasih, Adinda Hana Satrio karena telah membuat saya berani berbicara sperti ini sama kamu. Saya jadi berani menyuarakan suara saya yang selama 16 tahun ga bisa keluar gara2 sifat-sifatmu itu.
Maaf jika menyinggung.
tertanda,
yang muak padamu.
hati dari Adinda Hana Satrio.
No comments:
Post a Comment