Saturday, July 3, 2010

Ikhlas

Aku sedih. Perasaan yang sukar aku dapatkan dari hidup. Ketika aku melihat wajah itu, aku sadar bahwa aku benar cerminannya. AKU bayangannya.

Aku tak terima. Bukan! Aku bukan cerminanmu! Aku tak mau hal yang sama terjadi pada keluargaku kelak. Sekali lagi aku teriak, aku bukan cerminanmu!!!

Aku bercermin. Aku lihat wajahku. Aku lihat gerakanku. Aku lihat sifatku.
Tak bisa dipungkiri aku memang cerminan dia. Aku terluka. Aku kaget.

TOLOL!!! Aku dorong bayangan itu, cerminan itu, makin dekat ia memelukku.
Aku berontak. Tapi aku kurang kuat. Aku kalah kuat. Justru ia makin kuat.
Aku lihat dia dalam diriku. Caraku berontak, itu dia. Caraku menangis, itu dia. Caraku membenci semua keadaan, itu dia.

Aku adalah dia. Aku terpaksa jadi dia.
Karena apa? Cinta. Cintaku terhadapnya tidak bisa dihitung dengan kalkulator super jenius.
Kalaupun Einstein hidup lagi, ia tak bisa membuat rumus untuk menghitung cintaku terhadapnya.

Ikhlas. Aku ikhlaskan diriku berubah menjadi dia.

Aku bercermin lagi. Aku tersenyum. Caraku tersenyum persis caranya.
Ternyata cantik. Aku sadar ini semua tidaklah buruk.

Ikhlas. Aku ikhlaskan diriku berubah menjadi dia.
Ikhlas. Aku ikhlaskan diriku berubah menjadi dia.
Ikhlas. Aku ikhlaskan diriku berubah menjadi dia.



No comments: