Pengen mengkritik negara, takut salah tulis.
Pengen mengkritik sekolah atau teman, nanti salah tulis juga.
Kalau dilihat lagi, yang mau ditulis cuma kritikan aja. Sekarang ketawan betapa gak bermutunya isi otak gue.
Yang terlintas cuma kritik, kritik, dan kritik. Dan kritik orang lain. ORANG LAIN.
Tapi gue sendiri gak mau dikritik.
Mendingan gue jaman SMP. Berani sok jago bikin cerpen dan pede aja dikirim ke salah satu majalah remaja yang lagi hip banget waktu itu, dan isinya tentang kritikan gue terhadap anak yang males sekolah. Terbukti gue lebih pinter waktu kecil dibanding sekarang.
Intinya tuh, kualitas diri gue menurun. Kuantitas dari kualitas gue menurun, Ngerti gak?
Karena gue gak pernah mau terima kritik orang lain.
Dan gue kebawa mainstream. Jauh kebawa mainstream. Itu yang buat kualitas gue menurun.
Gue lebih nurutin keinginan publik dibanding denger suara hati.
Tulisan gue juga gak berarah. Random banget. Gak jelas alurnya mau ngarah kemana.
Kembali ke mainstream, contoh aja, gue jadi ngikut pake "gue" dibanding "saya".
Gue gak suka "gue". Tapi karena tuntutan publik dan mainstream remaja yang menuntut untuk jadi "open" dan "gaul" gue ngikut tren itu.
Lagi-lagi tulisan gue gak berarah. Sedih deh mengetahui kualitas dari segala bagian dari tubuh gue menurun. Bahkan NOL.
Mau muter waktu, tapi gak bisa. Gue rasa muter waktu itu keinginan dari semua manusia. Apa gak semua? Apa cuma manusia yang gak bersyukur atau lupa cara bersyukur, bahkan gak tau cara bersyukur yang mau muter waktu?
Gue gak munafik, gue mau muter waktu dan benerin semuanya. Benerin semuanya dalam konteks mengubah semuanya. Bahkan merubah yang udah bener sekalipun.
Lagi-lagi gak berarah.
No comments:
Post a Comment